''TELAH dikatakan jika kelak anak ini jadi bisu,'' kata si Tukang Cerita kepada Gusti junjungannya suatu malam di tepi sebuah telaga. Bening. Dekat Bale Pamereman, gemericik air yang jatuh seolah sengaja dialirkan dari sebuah sumber air yang jernih. Menerpa daun-daun tunjung merekah memenuhi telaga mengitari Bale Pamereman yang mengambang di atas aroma bunga-bunga lotus.
Gemericik air yang jatuh ke telaga semacam tetabuhan yang melantunkan alunan bunyi yang ritmis. Sesekali suara penghuni dari dinding-dinding telaga mengendus, layaknya nada-nada koor yang menggema. Raut wajah si Tukang Cerita tampak tak berseri lagi. Ada rasa kecemasan yang terpendam membaluri seluruh perasaannya setiap waktu. Terutama, sejak anak perempuan satu-satunya diminta Gusti Ayu Prami, junjungannya itu, untuk mamarek di purian. Dan untuk kali ini, karena tugasnya, si Tukang Cerita telah mengemas cerita yang lain dari malam-malam kemarin. Dengan posisi duduk persis di ujung kaki Gusti junjungannya, ia memulai cerita andalannya itu. Begini ceritanya:''Begitulah, akhirnya anak ini menjadi kompas dalam kematian seorang Dayang yang cantik itu.''''Elizabeth, nama Dayang itu. ''Gusti junjungannya manggut-manggut kecil. Tapi, si Tukang Cerita, dalam hatinya, tetap saja mencoba memberikan semacam pencerahan atau sebaliknya semacam pemberontakan keras pada Gusti junjungannya untuk menghentikan kebiasaan mengambil selir-selir sebagai penawing dari seluruh negeri. Si Tukang Cerita melanjutkan ceritanya:''Anak bisu itu dipungut oleh Dalem Sidang Rapuh dari Alas Arum, daerah hutan yang amat terkenal tempat berkumpulnya wong samar. Waktu itu, Dalem sedang berburu. Dengan kemahiran memainkan jari-jemari, gadis kecil itu telah membahasakan sesuatu untuk dirinya. Tak seorang pun mengerti, kecuali seorang tawanan Cina yang ditawan oleh Dalem Sidang Rapuh ketika tertangkap di perairan pantai Pererenan.'' ''Aku telah kehilangan jejak. Ditinggal oleh seluruh keluargaku,'' kata tawanan Cina membahasakan gadis kecil yang memainkan jari-jari tangannya. ''Katakan padanya, siapa nama orangtuanya,'' kata Dalem Sidang Rapuh pada tawanan Cina itu. Gadis itu menggelengkan kepalanya. Mengernyitkan alisnya seolah mengingat-ingat sesuatu. Ia kembali memainkan jari-jemarinya. ''Aku lupa segalanya, kenapa aku sampai di sini,'' kata tawanan Cina itu memberi makna pada gerak jemari gadis bisu itu. Anak itu kembali memainkan jari-jemarinya dengan cepat dan bercerita seakan ia telah menemukan sesuatu. Entah kenapa, gadis kecil itu menangis, memilukan bagai dihukum oleh seorang tua dicambuk berkali-kali, tak satu pun jemari dimainkannya lagi. Ia telah terbujur kaku. Tapi, tik-tak jantungnya masih bergetar, berkedip-kedip pada dadanya yang lapang. Si Tukang Cerita memperbaiki posisi duduknya dengan menjulurkan kedua kakinya agar lebih nyaman. Segera setelah itu, ia melanjutkan ceritanya: Sesaat kemudian, gadis bisu itu serentak bangun dengan rambut berjuntai. Pandangannya agak aneh, bagai ekspresi seorang penari yang melorotkan bola matanya. Begitulah! Ia meraung-raung. ''Akulah Elizabeth! Akulah Elizabeth! Dayang malang kesayangan Dalem.'' Suara gadis kecil itu merendah. Semua jadi heran. Layaknya sebuah mukjizat. Gadis kecil itu mampu bersuara, bahkan dengan lancangnya menuding-nuding Dalem Sidang Rapuh. ''Cintaku tak pernah sampai, Gusti! Cintaku tak pernah sampai!'' kata gadis kecil dengan nada memelas dan air mata. Entah dari mana datangnya, air kembang aneka warna ditumpahkan ke sekujur tubuh gadis kecil itu. Seseorang merapatkan mulutnya dan membisikkan sesuatu ke telinga gadis itu. Gadis itu menampik dan meronta-ronta dengan hebatnya. ''Cintaku tak pernah sampai. Jahanam!''suaranya semakin keras menukik. Orang-orang mundur dua-tiga tindak. Takut disergap. Akhirnya gadis kecil itu tertawa terkekeh-kekeh. Persis kisah Calonarang di jaba Pura Prajapati!'' Hingga di situ, si Tukang Cerita mengambil jeda sambil mengontrol kalau-kalau Gusti junjungannya masih betah menyimaknya. Ia kembali melanjutkan cerita itu dengan kegelisahannya. Pada fragmen cerita ini, si Tukang Cerita mulai menghujam nurani Gusti junjungannya itu. Gadis kecil itu mulai memandangi orang-orang di sekelilingnya satu-persatu dengan secermat-cermatnya. Prami dan puluhan penawing berjejer di samping Dalem Sidang Rapuh. Tak luput juga para abdi dan Dayang, para Patih, Bagawanta, dan eselon-eselon Puri. Tapi entahlah, Dalem Sidang Rapuh dengan cepat merundukkan kepalanya. Menghindari semprotan gadis kecil itu -- amat mencurigai. Si Tukang Cerita mencoba untuk tidak menunjukkan kegelisahannya di hadapan Gusti junjungannya itu. Ia merasakan kalau ceritanya itu mulai mengaliri urat-urat nadinya. Perlahan-lahan merambat. Bahkan mulai membakar hampir ke seluruh tubuhnya. Ia kembali pada sikap yang setenang-tenangnya, agar bisa melanjutkan ceritanya kembali. Terbayang Dalem Sidang Rapuh kepada Elizabeth, sewaktu menyunggingkan senyumnya sambil menyuguhkan kudanya kepada Dalem pagi itu. Meski ia seorang Raja, Dalem Sidang Rapuh merasa tertawan juga. Hanyut sejenak dengan tatapan mata Elizabeth yang menancap. Tapi, tak begitu menyayat. Terasa ada getaran merambat, menyusup, sampai menembus relung yang paling rahasia di antara dua insan itu. Rupanya, Elizabeth cepat maklum, kalau ia hanya seorang Dayang yang pasti bukan sandingan dan tandingan Dalem Sidang Rapuh, Gusti junjungannya itu. ''Tapi, jika Dalem menghendaki?'' pikir Elizabeth, tergoda. ''Dalem Sidang Rapuh bisa berbuat apa saja jika ia mau. Dan kebanggaan bagi setiap wanita jika sampai dipersunting Dalem. Selir sekali pun, jadilah! Dalem adalah Raja, Gusti junjungan setiap orang di negeri ini. Disanjung-sanjung dan dihormati semua orang. Seandainya, ini seandainya saja, aku dipersunting Dalem. Oh, betapa bangganya aku, seluruh kerabat-kerabatku akan memberiku takzim. Mereka akan sungkan kepadaku. Martabat dan wibawaku pasti terangkat meski tak utuh seratus persen. Ah,...!'' Lamunan Elizabeth tak sengaja dibuatnya sendiri semakin gila. Semakin hari, Elizabeth semakin memaklumi keberadaannya, seakan telah menemukan potret dirinya yang sebenar-benarnya. Dia hanya seorang Dayang. Dayang cocoknya hanya dengan seorang abdi, parekan, pikirnya dalam-dalam. Diam-diam ia pun telah menjatuhkan pilihannya pada parekan yang bertugas mengunci dan membuka pintu Puri. Berani dan gagah parasnya. Cinta mereka itu ternyata telah saling berpaut membentuk simpul pengikat kedua jiwa insan itu, walau dalam tahap yang disembunyikan. Si Tukang Cerita diam! Ia teringat dengan putrinya semata wayang yang sangat dikasihinya yang kini telah resmi menjadi Dayang di Puri Gusti junjungannya itu. Untuk menyembunyikan kegelisahan dan kecemasan pada Gusti junjungannya, si Tukang Cerita mengambil lipatan sirih, gambir dan sedikit kapur. Kapur itu ditorehkannya di daun sirih. Kemudian dilipat-lipat dan langsung disorongkan ke mulutnya yang mulai kering. Secepat itu, seluruh rongga mulutnya jadi semerah darah. Ia menyabet sejumput tembakau dari sebuah keropak kendati sedikit apek. ''Mohon ampun, Gusti! Hamba mengunyah sekapur sirih,'' ucap si Tukang Cerita. ''Hemm,'' Gusti junjungannya mengiakan dengan sorot wajah yang semakin lelah. Urat-urat matanya nampak semakin kendor. Dan tampak pula semangatnya untuk mendengar cerita si Tukang Cerita semakin surut. ''Ceritamu kali ini memang lain.'' Tapi, perasaan si Tukang Cerita semakin cemas. Mencemaskan keberadaan anak satu-satunya itu. Kecemasan itu sempat menggedor memori pikirannya, ketika ia dipanggil menghadap Gusti Ayu Prami, agar anak perempuannya segera dikirim ke purian untuk mamarek dan membelajarkan dirinya. Sebagai abdi yang patuh, ia pun manut, meski dengan setengah hati dan perlawanan yang disembunyikan. ''Raja di mana saja sama. Selalu menghalalkan segala cara untuk menyenang-nyenangkan dirinya. Lalu, apa bedanya dengan Gusti junjunganku ini,'' pikir si Tukang Cerita. Sudah dapat dipastikan jika kelak, anak perempuannya bernasib sama dengan berpuluh-puluh gadis akil-balig dari penjuru negeri yang telah jadi mangsa Gusti junjungannya itu. Riwayat mereka tak ubahnya bagai sampah yang bertumpuk-tumpuk di sudut Puri. Kerja asalan saja. Malahan, beberapa ada yang dikembalikan ke negeri asalnya. Bajingan! Ia pandangi Gusti junjungannya dengan gigi gemeretak. Di sudut bibirnya terselip susur sehabis me-nyisig giginya yang masih tersisa dan berwarna kecoklatan. Si Tukang Cerita mampu mengerem kemarahannya. Hembusan napasnya diatur sedemikian rupa sambil membayangkan putrinya semata wayang yang terlanjur dan terpaksa dipersembahkan sebagai Dayang pada Gusti junjungannya itu. ''Sudah, sudah! Jangan lagi cerita tentang Elizabeth!''Gusti Junjungannya itu seakan telah bercermin pada bayangannya sendiri. Ada peran yang mulai tidak disukai dan mengusik perasaannya. ''Lantas, bagaimana si gadis bisu itu?'' tanya Gusti junjungannya tak acuh. ''Walhasil, gadis kecil itu telah siuman. Ia jadi gagu lagi.Maksud hamba, ia kembali bisu, Gusti!''''Lalu?'' Lalu, ia memainkan lagi jari-jemarinya. Dan kata si tawanan Cina itu, gadis kecil itu telah menemukan siapa pembunuh Dayang itu sesungguhnya!'' Si Tukang Cerita menatap mata Gusti junjungannya sudah di ambang redup. Layaknya tersihir wong samar dari hutan di mana gadis kecil itu ditemukan. ''Gadis kecil itu benar-benar telah jadi kompas bagi kematian Dayang itu, Gusti!'' Si Tukang Cerita menutup ceritanya dengan teramat geram dan tak kuasa lagi menyembunyikan kegelisahan dan kemarahannya. Serta-merta ia menghunus kerisnya. Ia telah termakan ceritanya sendiri. Di sekitar Bale Pamereman di atas aroma bunga-bunga lotus di tengah telaga itu, jelas terdengar gemericik airnya yang seolah sengaja dialirkan. Tapi, airnya tak lagi bening. Buram, bahkan semerah darah! Tabanan, medio Juni 2002


0 comments: