13:50 | Author: Agus Darmita Wirawan

SASIH Kesanga, bulan mati, raga menyusut pada puncaknya. Perjalanan waktu setahun sejenak terhenti pada tapal batas waktu memuja, saat meretrospeksi diri dari segala bentuk pikiran, ucapan dan laku kita. Setahun sekali, pada setiap Nyepi, saat jasmani kita mati untuk kesekian kalinya, adalah sebuah permulaan. Bermula dari kosong (nol), kita akan melangkah untuk membuat hitungan-hitungan baru. Demikian kita memaknai perjalanan sang waktu -- matahari -- sebagai daya hidup yang mulai berkemas dari Daksinayana menuju ke Utarayana -- arah tersuci dari perjalanan semesta. Saat Bhagawan Bisma -- putra Sentanu dengan Dewi Gangga ini menanti ajal, memisahkan sukma dari raga kendati berhari-hari menahan rasa sakit, nyeri lambung berbaring terbujur di atas anak-anak panah yang menancap di sekujur tubuhnya.
Nyepi adalah suatu tonggak mengakhiri perjalan Trikona lahir, hidup, dan mati yang terus bergulir mengikuti siklus semesta. Nyepi adalah kematian raga untuk menyusup pada dasar bathin yang terdalam. Penyatuan antara Atman dan Brahaman sebagai simbul dari buana alit dan buana agung. Nyepi adalah pencarian hakikat untuk membentuk suatu harmoni. Keseimbangan ''rwabhinedha'', antara keletehan dan kemurnian pikiran.
Nyepi tidak sakadar membunuh rutinitas, tetapi lebih dalam lagi, adalah sebuah kontempelasi seluruh semesta, pencairan esensi kehidupan dengan menekan segala bentuk emosi dan ambisi yang berlebihan;pengekangan segala bentuk keinginan-keinginan yang tak terbatas; pembekuan aktivitas keseharian; dan pembatasan diri gerak dan laku. Api birahi yang menyulut dan menyulap indra-indra menjadi kegelapan, sejenak kita padamkan dengan tapa, brata, yoga, dan semadi kita. Hari ini kita jernihkan kembali kekeruhan yang meliput raga.
Nyepi sebagai suatu perburuan kemurnian batin. Putih jernih di air tenang, bulan akan menampakkan diri. Begitu Sang Khalik terbaca dalam pikiran. Nyepi tidak pula sekadar perayaan pergantian tahun, kemudian membuat prediksi hitungan-hitungan baru dari waktu ke waktu, tetapi sebuah renungan bagi jati diri untuk tetap awas dan eling, menyelaraskan antara kata hati dan laku kita. Menyadari diri kecil sekecil-kecilnya sebatas titik horizon dalam Nyepi, adalah menyerahan diri sepenuhnya kepada sangkan paraning dumadi.
Nyepi adalah titik kesenyapan. Jeda yang memaknai seluruh rangkaian proses yang pernah kita lalui dalam menyiasati hidup yang mengelobal, menempatkan posisi kita di antara tantangan dan harapan, kecemburuan dan kasih sayang, kejujuran dan kepalsuan -- dua hal yang selalu tampak bersimpang jalan mempengaruhi gerak tualang kita, bagai per perseteruan antara setan dan malaikat. Perang dalam batin. Nyepi adalah puncak dari pencemaran semesta, yang harus kita jernihkan kembali dengan pencarian hakikat melalui tapa, brata, yoga dan semadi yang khusuk. Sejak awal kita sudah diperingatkan dengan tanda-tanda ketimpangan itu. Pada sasih Kapitu bulan mati, bulan yang tergelap -- kita melakukan puja Ciwaratri, kemudian dirangkai dengan upacara nangkluk merana pada sasih Kawula, saat hujan dan badai mengimpun kekuatannya menggoyang hidup semesta, sebagaimana layaknya siklus berjalan. Dan pada sasih Kesanga bulan mati adalah Sipeng, sebuah kata yang bermakna sepi. Sepi dalam Nyepi adalah berhentinya kegiatan pisik. Kematian raga, tapi batin tetap bergolak menggapai tingkat spiritual sebagai kekuatan supra. Malam sasih Kesanga, bulan mata. Begitulah kegelapan meliputindra-indra kita, menjadikan pikiran kita keruh, namun mata hati senantiasa diterangkan dengan lentera sinar suci-Nya.
Sinar suci sebagai pangancan tempat meniti arah lampah laku kita. Tumpuan yang harus kita pegang erat-erat dalam mengarungi dinamika hidup, mencapai batas Catur Paramita -- Dharma, Artha, Kama, dan Moksa. Semuanya bergerak dari satu sumber, dharma, sebagai landasan berpijak sekaligus dasar hukum alam yang kekal abadi untuk mencapai suatu tujuan. Adalah suatu kekeliruan besar, jika sementara orang-orang mengubah rangakaian itu menjadi bentuknya sendiri. Mereka mengabaikan dharma sebagai esensi asal mula.
Dalam hidup, banyak orang mendahulukan ''kama'' yang pengertiannya tak sebatas nafsu birahi, namun sebagai suatu kiat menumbuhkan segala bentuk keinginan-keinginan yang tak terhitung untuk memperoleh dan menumpuk ''artha'' -- sebagai sarana pemenuhan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Artha adalah sarana material yang secara kasat mata mampu menumbangkan apa saja di alam maya ini, memberikan kebahagiaan sesaat. Dari kemapanan ini, mereka, dengan langkah kecil, baru mulai memahami hakikat Dharma, setelah mendahulukan kama dan artha lebih awal. Ternyata baru disadarinya bahwa artha tak selamanya memberikan kebahagiaan hidup. Dengan dharma ini ia upayakan mencapai pencerahan, penyatuan antara Atman dan Pramatman -- ''moksartham jagadhita ya ca iti dharma''.
Mereka telah keliru menempatkan dharma -- kebenaran -- pada satu sisi yang lain. Seyogyanya dharma harus jadi dasar dari segala aktivitas pisik kita, sebagaiman dalam Nyepi ini, bukan sebaliknya. Namun, ternyata ada pembenaran yang mendukung pernyataan itu, ketika seorang Ratnakara yang sejak kecil menjadi seorang pemburu dan perampok di tengah-tengah belantara luas, semata-mata karena keinginannya yang keras untuk bertanggung jawab menghidupi orang tuanya. Ratnakara telah mendahulukan kama untuk memperoleh artha daripada dharma. Kemudian ia mencapai pencerahan sebagai Bhagawan Walmiki pengawi Ramayana itu, setelah menemukan hakikat, yakni Sapta Rsi penerima wahyu Weda Samhita (Catur Weda).
Ia telah menjadikan urutan rangakaian Catur Paramita dengan mendahulukan Kama -- Artha -- Dharma -- dan Moksa. Demikianlah sasih Kasanga bulan mati, Nyepi adalah kematian rasa sekaligus kematian raga, sesaat setelah itu untuk bangkit kembali dengan pikiran serba putih jernih. Dalam kematian raga itu, setidaknya ada tiga hal yang perlu kita sadari, bahwa harta dan segala bentuk materi semacamnya kita tinggalkan hanya sampai di rumah.Sahabat-sahabat baik, mengantarkkan kita ke pemakaman. Amal yang baik -- tingkah laku kita, mengantarnya sampai ke liang kubur. Amal dari karma itulah yang kekal, yang akan menghakimi kita sampai akhirat, yang akan memberikan kadar keimanan pada punarbawa berikutnya. Sasih Kasanga bulan mati. Kata pun mati; namun getaran maknanya tetap terpancar terang dalam batin. Kita rasakan sedang mengubek kekeruhan pikiran menjadi putih jernih membentuk suatu harmoni. Nyepi adalah awal kebangkitan batin yang menyusup kembali pada raga baru, raga kita yang lain. * Agus Darmita Wirawan

catatan ini dimuat di Bali Post Minggu 6 April 1997

baca lagi...

19:50 | Author: Agus Darmita Wirawan

Sumber Bali Post Minggu Paing, 21 Nopember 2004

''Siapa yang mengatakan dirinya paling berjasa di sini, omong kosong. Baru begini saja sudah mengatakan diri paling berjasa. Rumahku sudah dibakar habis oleh NICA, dan keluargaku entah bagaimana sekarang, aku belum merasa diri berjasa sedikit pun. Ini hanya kewajiban, kalau kita ingin mengatakan diri kita berjuang untuk tanah air.''

ITULAH nukilan pernyataan I Gusti Ngurah Rai atau Pak Rai ketika dalam masa perjuangan menuju tanah Mel, di lereng Gunung Agung, yang merupakan bagian fragmen "Puputan Margarana" yang penuh heroik dan menarik direnungkan. Pernyataan itu memberikan pencerahan kepada para pejuang waktu itu akan pentingnya kehadiran kesadaran sejati dalam diri sendiri. Dalam perjuangan melawan kezaliman dan kebatilan, tidak sepatutnya menghitung untung-rugi, tidak layak pula menghitung siapa yang paling berjasa antara satu dengan yang lain. Semua karma (baca: perjuangan) telah dicatat oleh alam dan dipastikan akan mendapatkan pahala yang setimpal atas pengorbanannya itu.

Ini adalah konsep harmoni -- keseimbangan, antara perjuangan dan kemenangan, antara pengorbanan dan tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Hitungannya pun konon lebih canggih dari alat-alat hi-tech sekalipun. Itulah "alam" makrokosmos yang dalam spiritual Hindu identik dengan Brahman itu sendiri. Karena itu, siapa yang menentang alam, tentulah akan dilumat oleh alam itu sendiri. Karenanya pula, terhadap hukum alam, tak seorang insan pun sanggup menolaknya.

Disadari atau tidak, sesungguhnya perang "Puputan Margarana" tidak pernah berakhir. Kalau pun "puput" hingga momentum 20 November 1946, namun refleksi semangat yang dialirkannya kepada para generasi adalah sebuah cermin -- potret keteladanan bagi kita. Pak Rai adalah sosok yang tak pernah menyurutkan tanggung jawabnya dan tak pernah capai dengan strategi-strategi perjuangannya. Adakah di antara kita kini tengah mengabdi untuk kepentingan orang banyak dengan mengabaikan kepentingan-kepentingan pribadi?

Kini, idealisme memang relatif kian surut, bahkan hampir punah sama sekali digerus waktu dan zaman. Mencermati kondisi dan situasi kekinian, idealisme nampaknya bagai sebuah gurauan atau lelucon. Tak seorang pun akan percaya seratus persen jika masih ada idealisme yang tersisa dalam perjuangan atau pun dalam pembangunan. Benarkah? Dalam kondisi apapun, sesungguhnya idealisme selalu tumbuh. Bayangkan, jika sebuah idealisme tidak menjadi bagian dari perjuangan, barangkali saja tak satu pun perjuangan atau pembangunan dapat diwujudkan.

Namun, perbedaan idealisme pada zaman pembangunan ini kadarnya lebih menyusut jika dibandingkan dengan zaman pergerakan tempo dulu. Keberanian pasti tumbuh jika mereka ada dalam zaman yang sulit. Pikiran-pikiran cemerlang selalu lahir dalam kondisi sosial yang susah. Pada masa pembangunan ini, semangat dan keteladan para pejuang haruslah dijadikan barometer untuk menapaki hari-hari. Karena sesungguhnya hidup ini adalah sebuah perjuangan yang tak pernah berakhir dan perjuangan itu sejatinya identik dengan pengorbanan itu sendiri. Akhirnya, tak ada yang mesti harus diperhitungkan untung-ruginya dan jasanya, karena hasil dari perjuangan akan muncul dengan sendirinya tanpa harus dipikirkan lebih dahulu.

Mencermati nukilan pernyataan Pak Rai di awal tulisan ini, tampaklah Pak Rai tak pernah membayangkan jasa apa yang kemudian akan diterimanya, dan tidak juga pernah pamrih terhadap rasa bhakti yang telah dikorbankannya. Itu semua semata-mata karena tanggung jawabnya yang disandang sebagai pucuk Pimpinan Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia (DPRI) Sunda Kecil waktu itu. Pak Rai benar-benar berkorban untuk tanah air. Ketegasan dan keberanian Pak Rai terbukti pada suratnya kepada Overste Termeulen yang nyata-nyata menghendaki Belanda (NICA) lenyap dari pulau Bali. Hal tersebut kini diabadikan di empat dinding cadas Monumen Perjuangan Candi Margarana di Desa Marga Dauh Puri, Tabanan. Monumen yang kokoh-tegak berdiri di atas tanah di mana Pak Rai mengumandangkan kata "puputan" sebagai tanda perjuangan sampai titik darah yang penghabisan kali, sekaligus menjadi saksi bisu perjuangan "Puputan Margarana". Namun, masihkah itu mampu menyisakan idealisme di hati kini?

Di bulan November ini ada citra sungkawa yang patut jadi renungan bersama. Dua peristiwa mahapenting yang diperingati setiap tahun, Hari Pahlawan dan Puputan Margarana adalah hari-hari penuh korban, jiwa dan raga. Itu adalah tonggak yang telah menjadikan kita lebih baik dari hari-hari kemarin, mengambil kembali bagian milik kita seutuhnya dari tangan-tangan penjajah, menuntaskan kita sebagai suku bangsa yang benar-benar merdeka, dan menghirup "satu udara" di bumi Indonesia.

Maka, tidak harus saling berseteru, karena kita sesungguhnya "saudara." Ternyata, perjuangan belum usai, sebagaimana Chairil Anwar menulis dalam "Krawang Bekasi"-nya, "...Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian...", sebagai tanda tetap tumbuhnya idealisme di hati kita.

agus darmita wirawan
baca lagi...

03:46 | Author: Agus Darmita Wirawan


''TELAH dikatakan jika kelak anak ini jadi bisu,'' kata si Tukang Cerita kepada Gusti junjungannya suatu malam di tepi sebuah telaga. Bening. Dekat Bale Pamereman, gemericik air yang jatuh seolah sengaja dialirkan dari sebuah sumber air yang jernih. Menerpa daun-daun tunjung merekah memenuhi telaga mengitari Bale Pamereman yang mengambang di atas aroma bunga-bunga lotus.

Gemericik air yang jatuh ke telaga semacam tetabuhan yang melantunkan alunan bunyi yang ritmis. Sesekali suara penghuni dari dinding-dinding telaga mengendus, layaknya nada-nada koor yang menggema. Raut wajah si Tukang Cerita tampak tak berseri lagi. Ada rasa kecemasan yang terpendam membaluri seluruh perasaannya setiap waktu. Terutama, sejak anak perempuan satu-satunya diminta Gusti Ayu Prami, junjungannya itu, untuk mamarek di purian. Dan untuk kali ini, karena tugasnya, si Tukang Cerita telah mengemas cerita yang lain dari malam-malam kemarin. Dengan posisi duduk persis di ujung kaki Gusti junjungannya, ia memulai cerita andalannya itu. Begini ceritanya:''Begitulah, akhirnya anak ini menjadi kompas dalam kematian seorang Dayang yang cantik itu.''''Elizabeth, nama Dayang itu.

''Gusti junjungannya manggut-manggut kecil. Tapi, si Tukang Cerita, dalam hatinya, tetap saja mencoba memberikan semacam pencerahan atau sebaliknya semacam pemberontakan keras pada Gusti junjungannya untuk menghentikan kebiasaan mengambil selir-selir sebagai penawing dari seluruh negeri. Si Tukang Cerita melanjutkan ceritanya:''Anak bisu itu dipungut oleh Dalem Sidang Rapuh dari Alas Arum, daerah hutan yang amat terkenal tempat berkumpulnya wong samar. Waktu itu, Dalem sedang berburu. Dengan kemahiran memainkan jari-jemari, gadis kecil itu telah membahasakan sesuatu untuk dirinya.

Tak seorang pun mengerti, kecuali seorang tawanan Cina yang ditawan oleh Dalem Sidang Rapuh ketika tertangkap di perairan pantai Pererenan.''

''Aku telah kehilangan jejak. Ditinggal oleh seluruh keluargaku,'' kata tawanan Cina membahasakan gadis kecil yang memainkan jari-jari tangannya.

''Katakan padanya, siapa nama orangtuanya,'' kata Dalem Sidang Rapuh pada tawanan Cina itu.

Gadis itu menggelengkan kepalanya. Mengernyitkan alisnya seolah mengingat-ingat sesuatu. Ia kembali memainkan jari-jemarinya.

''Aku lupa segalanya, kenapa aku sampai di sini,'' kata tawanan Cina itu memberi makna pada gerak jemari gadis bisu itu.

Anak itu kembali memainkan jari-jemarinya dengan cepat dan bercerita seakan ia telah menemukan sesuatu. Entah kenapa, gadis kecil itu menangis, memilukan bagai dihukum oleh seorang tua dicambuk berkali-kali, tak satu pun jemari dimainkannya lagi. Ia telah terbujur kaku. Tapi, tik-tak jantungnya masih bergetar, berkedip-kedip pada dadanya yang lapang.

Si Tukang Cerita memperbaiki posisi duduknya dengan menjulurkan kedua kakinya agar lebih nyaman. Segera setelah itu, ia melanjutkan ceritanya: Sesaat kemudian, gadis bisu itu serentak bangun dengan rambut berjuntai. Pandangannya agak aneh, bagai ekspresi seorang penari yang melorotkan bola matanya. Begitulah! Ia meraung-raung.

''Akulah Elizabeth! Akulah Elizabeth! Dayang malang kesayangan Dalem.''

Suara gadis kecil itu merendah. Semua jadi heran. Layaknya sebuah mukjizat. Gadis kecil itu mampu bersuara, bahkan dengan lancangnya menuding-nuding Dalem Sidang Rapuh.

''Cintaku tak pernah sampai, Gusti! Cintaku tak pernah sampai!'' kata gadis kecil dengan nada memelas dan air mata.

Entah dari mana datangnya, air kembang aneka warna ditumpahkan ke sekujur tubuh gadis kecil itu. Seseorang merapatkan mulutnya dan membisikkan sesuatu ke telinga gadis itu. Gadis itu menampik dan meronta-ronta dengan hebatnya.

''Cintaku tak pernah sampai. Jahanam!''suaranya semakin keras menukik.

Orang-orang mundur dua-tiga tindak. Takut disergap. Akhirnya gadis kecil itu tertawa terkekeh-kekeh. Persis kisah Calonarang di jaba Pura Prajapati!''

Hingga di situ, si Tukang Cerita mengambil jeda sambil mengontrol kalau-kalau Gusti junjungannya masih betah menyimaknya. Ia kembali melanjutkan cerita itu dengan kegelisahannya. Pada fragmen cerita ini, si Tukang Cerita mulai menghujam nurani Gusti junjungannya itu. Gadis kecil itu mulai memandangi orang-orang di sekelilingnya satu-persatu dengan secermat-cermatnya. Prami dan puluhan penawing berjejer di samping Dalem Sidang Rapuh. Tak luput juga para abdi dan Dayang, para Patih, Bagawanta, dan eselon-eselon Puri. Tapi entahlah, Dalem Sidang Rapuh dengan cepat merundukkan kepalanya. Menghindari semprotan gadis kecil itu -- amat mencurigai. Si Tukang Cerita mencoba untuk tidak menunjukkan kegelisahannya di hadapan Gusti junjungannya itu. Ia merasakan kalau ceritanya itu mulai mengaliri urat-urat nadinya. Perlahan-lahan merambat. Bahkan mulai membakar hampir ke seluruh tubuhnya. Ia kembali pada sikap yang setenang-tenangnya, agar bisa melanjutkan ceritanya kembali. Terbayang Dalem Sidang Rapuh kepada Elizabeth, sewaktu menyunggingkan senyumnya sambil menyuguhkan kudanya kepada Dalem pagi itu. Meski ia seorang Raja, Dalem Sidang Rapuh merasa tertawan juga. Hanyut sejenak dengan tatapan mata Elizabeth yang menancap. Tapi, tak begitu menyayat. Terasa ada getaran merambat, menyusup, sampai menembus relung yang paling rahasia di antara dua insan itu. Rupanya, Elizabeth cepat maklum, kalau ia hanya seorang Dayang yang pasti bukan sandingan dan tandingan Dalem Sidang Rapuh, Gusti junjungannya itu.

''Tapi, jika Dalem menghendaki?'' pikir Elizabeth, tergoda.

''Dalem Sidang Rapuh bisa berbuat apa saja jika ia mau. Dan kebanggaan bagi setiap wanita jika sampai dipersunting Dalem. Selir sekali pun, jadilah! Dalem adalah Raja, Gusti junjungan setiap orang di negeri ini. Disanjung-sanjung dan dihormati semua orang. Seandainya, ini seandainya saja, aku dipersunting Dalem. Oh, betapa bangganya aku, seluruh kerabat-kerabatku akan memberiku takzim. Mereka akan sungkan kepadaku. Martabat dan wibawaku pasti terangkat meski tak utuh seratus persen. Ah,...!''

Lamunan Elizabeth tak sengaja dibuatnya sendiri semakin gila. Semakin hari, Elizabeth semakin memaklumi keberadaannya, seakan telah menemukan potret dirinya yang sebenar-benarnya. Dia hanya seorang Dayang. Dayang cocoknya hanya dengan seorang abdi, parekan, pikirnya dalam-dalam. Diam-diam ia pun telah menjatuhkan pilihannya pada parekan yang bertugas mengunci dan membuka pintu Puri. Berani dan gagah parasnya. Cinta mereka itu ternyata telah saling berpaut membentuk simpul pengikat kedua jiwa insan itu, walau dalam tahap yang disembunyikan. Si Tukang Cerita diam! Ia teringat dengan putrinya semata wayang yang sangat dikasihinya yang kini telah resmi menjadi Dayang di Puri Gusti junjungannya itu. Untuk menyembunyikan kegelisahan dan kecemasan pada Gusti junjungannya, si Tukang Cerita mengambil lipatan sirih, gambir dan sedikit kapur. Kapur itu ditorehkannya di daun sirih. Kemudian dilipat-lipat dan langsung disorongkan ke mulutnya yang mulai kering. Secepat itu, seluruh rongga mulutnya jadi semerah darah. Ia menyabet sejumput tembakau dari sebuah keropak kendati sedikit apek.

''Mohon ampun, Gusti! Hamba mengunyah sekapur sirih,'' ucap si Tukang Cerita.

''Hemm,''

Gusti junjungannya mengiakan dengan sorot wajah yang semakin lelah. Urat-urat matanya nampak semakin kendor. Dan tampak pula semangatnya untuk mendengar cerita si Tukang Cerita semakin surut.

''Ceritamu kali ini memang lain.''

Tapi, perasaan si Tukang Cerita semakin cemas. Mencemaskan keberadaan anak satu-satunya itu. Kecemasan itu sempat menggedor memori pikirannya, ketika ia dipanggil menghadap Gusti Ayu Prami, agar anak perempuannya segera dikirim ke purian untuk mamarek dan membelajarkan dirinya. Sebagai abdi yang patuh, ia pun manut, meski dengan setengah hati dan perlawanan yang disembunyikan.

''Raja di mana saja sama. Selalu menghalalkan segala cara untuk menyenang-nyenangkan dirinya. Lalu, apa bedanya dengan Gusti junjunganku ini,'' pikir si Tukang Cerita.

Sudah dapat dipastikan jika kelak, anak perempuannya bernasib sama dengan berpuluh-puluh gadis akil-balig dari penjuru negeri yang telah jadi mangsa Gusti junjungannya itu. Riwayat mereka tak ubahnya bagai sampah yang bertumpuk-tumpuk di sudut Puri. Kerja asalan saja. Malahan, beberapa ada yang dikembalikan ke negeri asalnya. Bajingan! Ia pandangi Gusti junjungannya dengan gigi gemeretak. Di sudut bibirnya terselip susur sehabis me-nyisig giginya yang masih tersisa dan berwarna kecoklatan. Si Tukang Cerita mampu mengerem kemarahannya. Hembusan napasnya diatur sedemikian rupa sambil membayangkan putrinya semata wayang yang terlanjur dan terpaksa dipersembahkan sebagai Dayang pada Gusti junjungannya itu.

''Sudah, sudah! Jangan lagi cerita tentang Elizabeth!''Gusti Junjungannya itu seakan telah bercermin pada bayangannya sendiri. Ada peran yang mulai tidak disukai dan mengusik perasaannya.

''Lantas, bagaimana si gadis bisu itu?'' tanya Gusti junjungannya tak acuh.

''Walhasil, gadis kecil itu telah siuman. Ia jadi gagu lagi.Maksud hamba, ia kembali bisu, Gusti!''''Lalu?''

Lalu, ia memainkan lagi jari-jemarinya. Dan kata si tawanan Cina itu, gadis kecil itu telah menemukan siapa pembunuh Dayang itu sesungguhnya!''

Si Tukang Cerita menatap mata Gusti junjungannya sudah di ambang redup. Layaknya tersihir wong samar dari hutan di mana gadis kecil itu ditemukan.

''Gadis kecil itu benar-benar telah jadi kompas bagi kematian Dayang itu, Gusti!''

Si Tukang Cerita menutup ceritanya dengan teramat geram dan tak kuasa lagi menyembunyikan kegelisahan dan kemarahannya. Serta-merta ia menghunus kerisnya. Ia telah termakan ceritanya sendiri.

Di sekitar Bale Pamereman di atas aroma bunga-bunga lotus di tengah telaga itu, jelas terdengar gemericik airnya yang seolah sengaja dialirkan. Tapi, airnya tak lagi bening. Buram, bahkan semerah darah!

Tabanan, medio Juni 2002

baca lagi...