Nyepi adalah suatu tonggak mengakhiri perjalan Trikona lahir, hidup, dan mati yang terus bergulir mengikuti siklus semesta. Nyepi adalah kematian raga untuk menyusup pada dasar bathin yang terdalam. Penyatuan antara Atman dan Brahaman sebagai simbul dari buana alit dan buana agung. Nyepi adalah pencarian hakikat untuk membentuk suatu harmoni. Keseimbangan ''rwabhinedha'', antara keletehan dan kemurnian pikiran.
Nyepi tidak sakadar membunuh rutinitas, tetapi lebih dalam lagi, adalah sebuah kontempelasi seluruh semesta, pencairan esensi kehidupan dengan menekan segala bentuk emosi dan ambisi yang berlebihan;pengekangan segala bentuk keinginan-keinginan yang tak terbatas; pembekuan aktivitas keseharian; dan pembatasan diri gerak dan laku. Api birahi yang menyulut dan menyulap indra-indra menjadi kegelapan, sejenak kita padamkan dengan tapa, brata, yoga, dan semadi kita. Hari ini kita jernihkan kembali kekeruhan yang meliput raga.
Nyepi sebagai suatu perburuan kemurnian batin. Putih jernih di air tenang, bulan akan menampakkan diri. Begitu Sang Khalik terbaca dalam pikiran. Nyepi tidak pula sekadar perayaan pergantian tahun, kemudian membuat prediksi hitungan-hitungan baru dari waktu ke waktu, tetapi sebuah renungan bagi jati diri untuk tetap awas dan eling, menyelaraskan antara kata hati dan laku kita. Menyadari diri kecil sekecil-kecilnya sebatas titik horizon dalam Nyepi, adalah menyerahan diri sepenuhnya kepada sangkan paraning dumadi.
Nyepi adalah titik kesenyapan. Jeda yang memaknai seluruh rangkaian proses yang pernah kita lalui dalam menyiasati hidup yang mengelobal, menempatkan posisi kita di antara tantangan dan harapan, kecemburuan dan kasih sayang, kejujuran dan kepalsuan -- dua hal yang selalu tampak bersimpang jalan mempengaruhi gerak tualang kita, bagai per perseteruan antara setan dan malaikat. Perang dalam batin. Nyepi adalah puncak dari pencemaran semesta, yang harus kita jernihkan kembali dengan pencarian hakikat melalui tapa, brata, yoga dan semadi yang khusuk. Sejak awal kita sudah diperingatkan dengan tanda-tanda ketimpangan itu. Pada sasih Kapitu bulan mati, bulan yang tergelap -- kita melakukan puja Ciwaratri, kemudian dirangkai dengan upacara nangkluk merana pada sasih Kawula, saat hujan dan badai mengimpun kekuatannya menggoyang hidup semesta, sebagaimana layaknya siklus berjalan. Dan pada sasih Kesanga bulan mati adalah Sipeng, sebuah kata yang bermakna sepi. Sepi dalam Nyepi adalah berhentinya kegiatan pisik. Kematian raga, tapi batin tetap bergolak menggapai tingkat spiritual sebagai kekuatan supra. Malam sasih Kesanga, bulan mata. Begitulah kegelapan meliputindra-indra kita, menjadikan pikiran kita keruh, namun mata hati senantiasa diterangkan dengan lentera sinar suci-Nya.
Sinar suci sebagai pangancan tempat meniti arah lampah laku kita. Tumpuan yang harus kita pegang erat-erat dalam mengarungi dinamika hidup, mencapai batas Catur Paramita -- Dharma, Artha, Kama, dan Moksa. Semuanya bergerak dari satu sumber, dharma, sebagai landasan berpijak sekaligus dasar hukum alam yang kekal abadi untuk mencapai suatu tujuan. Adalah suatu kekeliruan besar, jika sementara orang-orang mengubah rangakaian itu menjadi bentuknya sendiri. Mereka mengabaikan dharma sebagai esensi asal mula.
Dalam hidup, banyak orang mendahulukan ''kama'' yang pengertiannya tak sebatas nafsu birahi, namun sebagai suatu kiat menumbuhkan segala bentuk keinginan-keinginan yang tak terhitung untuk memperoleh dan menumpuk ''artha'' -- sebagai sarana pemenuhan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Artha adalah sarana material yang secara kasat mata mampu menumbangkan apa saja di alam maya ini, memberikan kebahagiaan sesaat. Dari kemapanan ini, mereka, dengan langkah kecil, baru mulai memahami hakikat Dharma, setelah mendahulukan kama dan artha lebih awal. Ternyata baru disadarinya bahwa artha tak selamanya memberikan kebahagiaan hidup. Dengan dharma ini ia upayakan mencapai pencerahan, penyatuan antara Atman dan Pramatman -- ''moksartham jagadhita ya ca iti dharma''.
Mereka telah keliru menempatkan dharma -- kebenaran -- pada satu sisi yang lain. Seyogyanya dharma harus jadi dasar dari segala aktivitas pisik kita, sebagaiman dalam Nyepi ini, bukan sebaliknya. Namun, ternyata ada pembenaran yang mendukung pernyataan itu, ketika seorang Ratnakara yang sejak kecil menjadi seorang pemburu dan perampok di tengah-tengah belantara luas, semata-mata karena keinginannya yang keras untuk bertanggung jawab menghidupi orang tuanya. Ratnakara telah mendahulukan kama untuk memperoleh artha daripada dharma. Kemudian ia mencapai pencerahan sebagai Bhagawan Walmiki pengawi Ramayana itu, setelah menemukan hakikat, yakni Sapta Rsi penerima wahyu Weda Samhita (Catur Weda).
Ia telah menjadikan urutan rangakaian Catur Paramita dengan mendahulukan Kama -- Artha -- Dharma -- dan Moksa. Demikianlah sasih Kasanga bulan mati, Nyepi adalah kematian rasa sekaligus kematian raga, sesaat setelah itu untuk bangkit kembali dengan pikiran serba putih jernih. Dalam kematian raga itu, setidaknya ada tiga hal yang perlu kita sadari, bahwa harta dan segala bentuk materi semacamnya kita tinggalkan hanya sampai di rumah.Sahabat-sahabat baik, mengantarkkan kita ke pemakaman. Amal yang baik -- tingkah laku kita, mengantarnya sampai ke liang kubur. Amal dari karma itulah yang kekal, yang akan menghakimi kita sampai akhirat, yang akan memberikan kadar keimanan pada punarbawa berikutnya. Sasih Kasanga bulan mati. Kata pun mati; namun getaran maknanya tetap terpancar terang dalam batin. Kita rasakan sedang mengubek kekeruhan pikiran menjadi putih jernih membentuk suatu harmoni. Nyepi adalah awal kebangkitan batin yang menyusup kembali pada raga baru, raga kita yang lain. * Agus Darmita Wirawan
catatan ini dimuat di Bali Post Minggu 6 April 1997

